09/Juli/2021

Sudah lebih 10 tahun Yayasan Gerbang Alam Timur berkegiatan dengan masyarakat NTT. Selama itu pula YAGAT sudah hadir secara intensif di beberapa komunitas di Pulau Timor dan Flores dan bekerjasama dengan berbagai partner dari dalam dan luar negeri. Kegiatan Usaha Bersama Simpan Pinjam (UBSP), Pendampingan Koperasi dan UKM serta Literasi Keuangan Keluarga menjadi inti dari semua kegiatan yang dijalankan YAGAT bersama komunitas di desa-desa dan derah sub-urban di NTT.

Pada segmen Ngobrol Asyik Pos Kupang edisi 17 Juni 2021, Direktur YAGAT, Oa Hayon mengatakan literasi keuangan keluarga dan pemberdayaan potensi lokal merupakan kunci menuju peningkatan kesejahteraan keluarga di NTT. Komunitas masyarakat di desa-desa dan daerah pinggiran diedukasi untuk lebih bijak dalam pengaturan spending atau pengeluaran keluarga. Edukasi literasi keuangan keluarga terwujud nyata dalam kegiatan UBSP, ketika keluarga mampu merencanakan spending bulanan mereka, dan mulai berpikir “usaha apa yang bisa saya lakukan untuk menghasilkan uang dengan modal dari UBSP?”. Inilah yang YAGAT lakukan dengan Koperasi Wanita Mawar di Maulafa, Kota Kupang, Kelompok Sehati di Kabupaten Kupang, Koperasi Lela Muda dan Koperasi Hubung Horang di kabupaten Flores Timur dan masih banyak kelompok dampingannya.

Bersamaan dengan literasi keuangan, terdapat juga pemberdayaan potensi ekonomi lokal. Lebih luas dari warisan leluhur, potensi lokal bisa berupa kemampuan komunitas untuk saling membantu dalam hal penguatan ekonomi. Hal ini yang YAGAT lakukan bersama partnernya seperti Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) NTT, Australia Alumni Grant Scheme, Konsulat Jenderal Australia di Bali dan AusAID. Kerjasama dengan berbagai institusi tersebut menjadi nyata lewat konsolidasi kelompok perempuan dan penguatan usaha-usaha produktif masyarakat seperti usaha anyaman di Desa Tasikona, virgin coconut oil (VCO) di Taloetan dan Kelor di Watowara. 

“Pendampingan yang kita kepada usaha masyarakat akar rumput ini banyak kali dalam hal desain produk, packaging dan pemasaran.”, tutup Oa Hayon.

Kesejahteraan masyarakat NTT adalah tujuan YAGAT. Ada banyak cara untuk menuju sejahtera, salah satunya melalui income yang layak melalui usaha-usaha kreatif di masyarakat akar rumput.

Full video: https://www.facebook.com/watch/live/?v=346582716822422&ref=watch_permalink

13/Jun/2021

Impian Koperasi Hubung Horang untuk memiliki sebuah unit usaha semakin dekat. Setelah bekerja selama kurang lebih 3 bulan, wujud bangunan Rumah Produksi hasil kerjasama Yayasan Gerbang Alam Timur, Koperasi Hubung Horang dan Konsulat Jenderal Australia di Bali kian berwujud.

Di atas lahan seluas 1,9 ha milik Yohanes Wuek, Rumah Produksi tersebut dibangun secara swadaya oleh seluruh anggota kelompok. Kepada perwakilan Yagat di Lato, Yohanes mengatakan usaha pengolahan tepung kelor ini mempunyai masa depan yang menjanjikan, untuk itu ia bersedia menghibahkan sebagian kecil lahannya untuk digunakan oleh kelompok.

Bangunan Rumah Produksi dengan luas 155 m2 dibangun secara swadaya oleh anggota kelompok. Ditengah-tengah kesibukkan mereka yang sebagian besarnya merupakan petani, para anggota masih sempat meluangkan waktu untuk bergotong royong membangun bangunan ini. Anggota kelompok, ibu-ibu dan bapak-bapak, secara aktif terlibat sejak tahap awal pembukaan lahan, penyediaan material lokal seperti batu dan kayu bangunan, pengerjaan fondasi dan ovol hingga mendirikan rangka bangunan.

File Video: https://www.youtube.com/watch?v=CsKlqCVIF4c

 

 

01/05/21

Pada 17 - 18 Maret bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT (DP3A), YAGAT melaksanakan kegiatan Penguatan Ekonomi Perempuan Marginal di desa Humusu-Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara. Peserta yang hadir adalah ibu-ibu yang kebanyakan adalah perempuan kepala keluarga (janda).

 “Hidup memang berat namun harus terus dijalani, seberat apapun itu”, keluh beberapa peserta sampai berurai air mata.

 Beban para ibu akan menjadi ringan bila berkelompok. Para ibu umumnya berprofesi sebagai penenun. Di saat pandemi seperti ini mereka mengakui bahwa tantangan terbesarnya ialah pemasaran. Namun ketika dunia bergegas ke pemasaran online, kelompok rentan di desa ini tak punya telepon seluler. Jangankan handphone android, hp senter (Nokia) pun belum semua memilikinya.

 Mereka sungguh kelompok marginal yang berada jauh di akar rumput. Tawaran bekerjasama dalam kelompok untuk saling membantu adalah suatu alternatif yang disambut dengan antusias. Tentunya kelompok perempuan marginal ini akan terus didampingi menuju kemandirian dan keberlanjutan agar bisa mengubah air mata derita menjadi senyum sukacita.

Supaya mampu mandiri dan berkelanjutan syarat utama adalah saling percaya, kompak dan bekerja sama. Dibutuhkan pengurus, pemimpin yang handal yang mampu merangkul semua anggotanya agar bersama sama mencapai tujuan. Dalam roleplay latihan memimpin rapat, semua peserta semangat dan berani mengungkapakan pendapat. Berani bicara dalam kelompok kecil memupuk nyali untuk berani maju berbicara di depan kelas.

Rencana Tindak Lanjut yang telah dibuat adalah komitmen untuk memulai dari diri sendiri dan bersama kelompok maju menuju sejahtera. YAGAT, DP3A dan kelompok perempuan akan terus berjejaring menenun kain kehidupan dangan motif cinta kasih.

 

Foto 1. Seorang ibu sedang bercerita tentang keseharian hidupnya.

28/04/21

YAGAT memfasilitasi Koperasi Wanita Lelamuda di Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena untuk bergabung bersama Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI). Pada pertemuan hari Selasa (30/03) yang dihadiri oleh tidak kurang dari 30 anggota kelompok wanita Lelamuda, Direktur YAGAT, ibu Raineldis Hayon yang kerap disapa Oa Hayon menyampaikan kabar sukacita ini secara langsung kepada seluruh anggota kelompok.

“Kita sudah bergabung dengan INKOWAPI. Ini merupakan sebuah langkah progresif untuk kelompok kita. Kemudian apa yang akan berikutnya kita lakukan? Kita perlu berpikir mengenai sebuah usaha produktif yang mampu menjadi sumber pendapatan koperasi”, tantang ibu Direktur.

Menjawab tantangan ini anggota telah merumuskan beberapa kegiatan produktif seperti produksi kripik ubi, menjahit pakaian tradisional dan jual beli komoditi pertanian.

Pertemuan dibagi dalam beberapa sesi yakni seminar dan diskusi isu-isu yang dihadapi kelompok seperti kaderisasi, administrasi dan pembukuan, analisa usaha, dan perencanaan kegiatan kelompok. Kegiatan analisa usaha sangat bermanfaat bagi para anggota koperasi. Seluruh anggota kelompok dapat memahami dengan baik cara menghitung biaya produksi dan cara menentukan harga jual produk mereka.

“Seluruh ibu-ibu yang menjadi anggota koperasi kami ini, semuanya adalah petani dan penjual sayur di pasar tradisional. Saya yakin kami bisa melakukan semua hal yang sudah kami sepakati”, ujar salah seorang anggota kelompok dengan antusias.

Semoga Koperasi Wanita Tani Lelamuda menjadi pengumpul komoditi pertanian di Desa Leraboleng untuk menjadi contoh bagi koperasi-koperasi wanita tani lainnya di NTT dan Indonesia.

 

 

Foto 1. Berfoto bersama Anggota Koperasi Wanita Tani Lela Muda, Leraboleng

Subkategori